Choosing the harder path: why I built MMC in Singapore. Memilih jalan yang lebih sulit: kenapa saya membangun MMC di Singapura.
When I told my Indonesia-based friends I wanted to try entrepreneurship, they were excited. When I told my Singapore-based friends the same thing, they reminded me of the risk. They were both right. Saat saya bilang ke teman-teman di Indonesia bahwa saya mau coba entrepreneurship, mereka semangat. Saat saya bilang ke teman-teman di Singapura, mereka mengingatkan saya tentang risikonya. Keduanya benar.
As an Indonesian living in Singapore, my two circles reacted very differently to the same news.
When I first told my Indonesia-based friends that I wanted to try entrepreneurship, most of them were excited and supportive. When I shared the same dream with my Singapore-based friends, some reminded me of how risky it was, especially in a place where stability is so highly valued.
They were both right. It is risky.
Why Singapore and not Indonesia
For me, it came down to one word. Clarity.
Clear requirements. Transparent processes and fees. Consistent rules. These things may sound simple, but they save entrepreneurs like me enormous amounts of time, energy, and stress.
I have not given up on Indonesia
The mission of my company is to give back to Indonesia, especially in education. I still believe in a future where the next generation does not have to choose between home and efficiency.
I chose to take the harder path. Maybe I will succeed, maybe I will not. But I would rather try than live with the regret of never trying.
Entrepreneurship is not the safe path. And I know my future self will thank me for not giving up.
Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Singapura, dua lingkaran saya bereaksi sangat berbeda terhadap berita yang sama.
Saat pertama saya bilang ke teman-teman saya di Indonesia bahwa saya mau coba entrepreneurship, kebanyakan mereka antusias dan mendukung. Saat saya bagikan mimpi yang sama ke teman-teman saya di Singapura, beberapa mengingatkan saya betapa berisikonya itu.
Keduanya benar. Memang berisiko.
Kenapa Singapura dan bukan Indonesia
Buat saya, semuanya turun ke satu kata. Kejelasan.
Persyaratan yang jelas. Proses dan biaya yang transparan. Aturan yang konsisten. Hal-hal ini mungkin terdengar sederhana, tapi menyelamatkan entrepreneur seperti saya dari waktu, energi, dan stress yang sangat besar.
Saya belum menyerah pada Indonesia
Misi perusahaan saya adalah memberi kembali ke Indonesia, terutama di bidang pendidikan. Saya masih percaya pada masa depan di mana generasi berikutnya tidak harus memilih antara rumah dan efisiensi.
Saya memilih jalan yang lebih sulit. Mungkin berhasil, mungkin tidak. Tapi saya lebih memilih mencoba daripada hidup dengan penyesalan karena tidak pernah mencoba.
Entrepreneurship bukan jalan yang aman. Dan saya tahu diri saya di masa depan akan berterima kasih karena saya tidak menyerah.
14 years that shape how I think
Indonesian by origin. Nine years studying and working in China. Seven years in Singapore including time at a statutory board. 100+ placements into elite Asian universities. Every paragraph I write is built on what those years taught me about how Indonesian families actually win at education.
14 tahun yang membentuk cara saya berpikir
Asal Indonesia. Sembilan tahun belajar dan bekerja di China. Tujuh tahun di Singapura termasuk waktu di statutory board. 100+ penempatan ke universitas elit Asia. Setiap paragraf yang saya tulis dibangun di atas apa yang tahun-tahun itu ajarkan kepada saya tentang bagaimana keluarga Indonesia sebenarnya menang dalam pendidikan.
