Twenty years ago, my wallet was stolen on a Jakarta-Bandung bus. Strangers saved me. Dua puluh tahun lalu, dompet saya dicuri di bus Jakarta-Bandung. Orang asing yang menyelamatkan saya.
I was 15. I was travelling from Jakarta to Bandung. My wallet was stolen and my phone had no credit. The bus driver, the passengers, and one stranger I never paid back. This is the Indonesia I carry with me. Saya 15 tahun. Saya sedang perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Dompet saya dicuri dan HP saya tidak ada pulsa. Pak supir bus, para penumpang, dan satu orang asing yang tidak pernah saya bayar kembali. Inilah Indonesia yang saya bawa.
About twenty years ago, when I was just 15, I experienced something unforgettable.
I was travelling from Jakarta to Bandung. On my way to meet the carpool, my wallet got stolen and my phone had no credit left.
What happened next
In that moment of panic, something incredible happened.
The bus driver felt sorry for me and started collecting money to help. The passengers all chipped in and supported me. The bus even changed its route to drop me at a travel stop to Bandung.
When I finally called the person I was supposed to ride with, he simply said, "Aiya, if you do not have money, it is okay, do not worry about paying."
That day, I promised myself: this is the spirit of Indonesia I want to carry with me wherever I go. I will never forget it.
Sekitar dua puluh tahun lalu, saat saya baru 15 tahun, saya mengalami sesuatu yang tidak terlupakan.
Saya sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Dalam perjalanan menuju ke tempat carpool, dompet saya dicuri dan HP saya kehabisan pulsa.
Apa yang terjadi selanjutnya
Di momen panik itu, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Pak supir bus merasa kasihan dan mulai mengumpulkan uang untuk membantu. Para penumpang semua urunan dan mendukung saya. Bus itu bahkan mengubah rutenya untuk menurunkan saya di tempat travel ke Bandung.
Saat saya akhirnya menelepon orang yang seharusnya berkendara bersama saya, dia hanya bilang, "Aiya, kalau kamu tidak ada uang, ya sudah, tidak usah dipikirin bayarnya."
Hari itu, saya berjanji pada diri sendiri: inilah jiwa Indonesia yang ingin saya bawa kemana pun saya pergi. Saya tidak akan pernah melupakannya.
The arc behind MMC
Started informally in 2011 when I tutored Mandarin part-time while working as an engineer. Hired the first full-time teacher in year four. Built the diagnostic protocol in year six. Stopped chasing growth in year nine. The slow arc was deliberate.
Arc di balik MMC
Dimulai secara informal di 2011 ketika saya mengajar Mandarin paruh waktu sambil bekerja sebagai engineer. Merekrut guru full-time pertama di tahun empat. Membangun protokol diagnostik di tahun enam. Berhenti mengejar pertumbuhan di tahun sembilan. Arc yang lambat itu disengaja.
